Siang ini, tepatnya pukul 15.00 WAS (Waktu Arab Saudi). Saya berbaring lemas di kasur hotel yang layak ditiduri, mata ku tak bisa terpejam karena beberapa hari ini atau beberapa waktu yang saya lewati selalu memikirkan sesuatu yang bisa dikatakan hal yang belum pasti. Ujung dari pikiran saya ini adalah ketakutan yang nantinya akan saya terima jika memang benar-benar terjadi, saya berusaha untuk menyimpannya sendiri, semoga saya bisa.

Nggak tahu mulai dari mana, di sini saya hanya mau berkeluh tentang pribadi saya sendiri, saya tahu kalau berkeluh tidak akan menyelesaikan kegundahan yang ada, Move! buat dan cari jalan keluarnya! Ya, saya tahu itu. Tapi dengan kegundahan yang saya alami ini apakah ada jalan keluarnya? Saya rasa ada, namun nanti ketika waktu itu sudah datang. Tetapi apakah saya boleh mencegahnya dari sekarang? Saya rasa boleh. Tapi apakah saya bisa? Apakah saya mampu? Apakah saya bisa sabar menghadapi kenyataan? Ya, Nabillah Rabbani Islami. Saya sudah jatuh hati dan sangat jatuh hati kepadanya, basi rasanya kalau hanya "Aku sangat sayang kepadamu, sangat amat.", di sini saya tidak mau hanya mengatakan hal basi tersebut tanpa memikirkan sesuatu ke depannya. Diawal bersamanya timbul pikiran di otak saya, "Apakah saya mampu bersamanya?", hari berganti bulan berganti saya terus berusaha mengarahkan dan membuat menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kepercayaan dan rasa sayangku semakin besar kepadanya, semakin hari dia semakin kelihatan kalau sangat sayang kepadaku. Oh iya, kami berdua pacaran jarak jauh Pekanbaru - Yogyakarta. Tanggal 19 Desember 2016 dia mendatangi saya di Jogja sendirian, beberapa hari setelahnya disusul teman-temannya. Mereka emang berniat untuk liburan di akhir tahun. Di sini lah kepercayaan ku mulai goyang, aku melihat sesuatu yang hmmmm aku sangat tidak sukai, tetapi bagiku waktu itu tidak masalah, karena akupun belum mengatakan hal-hal yang aku tidak sukai. Waktu berganti, akupun libur semester dan pulang ke Pekanbaru. Aku sudah tidak memikirkan hal tersebut, hanya kuanggap angin lalu tetapi aku gelisah dan gundah. Aku beranikan untuk mengatakan hal yang aku tidak sukai dari dia, dia terima dia bilang dia akan berubah, aku percaya. Namun esok aku dan dia seperti pasangan yang sedang berantem, aku tetap diam, hak dia untuk menghindari aku ketika itu. Kepercayaan aku kembali karena aku sangat mencintainya. Sampai dengan puasa pertamaku bersamanya, sampai dengan waktu yang sangat amat kubenci sekarang ini. Jelas didepan ku, dia melakukan hal yang sangat tidak kusukai. Pecah. Sesak. Hancur. Kecewa. bermacam-macam perasaan ku waktu itu, marah pun aku tak sanggup. Mulai detik itu, kepercayaanku susah untuk dibangun. Kepribadianku pun berubah. Aku tidak mengakhiri hubungan kami, aku memberinya kesempatan. Yang kuharap, aku bahagia bersamanya dan yang kupegang sekarang adalah masih dengan janjinya. Saya berfikir berarti selama ini saya sudah dibohongi. Ah sudahlah, itu sudah terjadi. saya sangat mencintainya. semoga percayaku kembali.

Setelah masalah itu, banyak muncul masalah-masalah yang lain dengan alasan dikarenakan masalah besar tersebut. Ya, saya belum terima.

Singkat cerita, sampai saat ini saya masih gelisah. Sampai saat ini saya hanya bisa diam dan berpura-pura bodoh.

Apa yang harus aku lakukan? Bukan gelisah, bukan memikirkan itu terus menerus. Ya, terima saja kenyataan. Anggap ini ujian mu untuk menjadi dewasa, sebesar apapun salahnya aku berjanji aku tetap sayang dan disisinya. Semoga sakit ku berbuah hasil semoga usaha ku tidak belok, semoga dia berubah. Semoga dia benar-benar menjadi milikku.










Saya dan Aku. itu satu orang. Maaf dengan ke-random-an ini. Hanya tidak tahu mengadu kemana selain Allah. Semoga lemparan kalimatku di blog ini bisa membuat hati ku tidak gelisah lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Aku Rindu, Kamu.