Aku Rindu, Kamu.
Aku selalu berfikir bagaimana hidupku kedepan, memang terlalu naif untuk keras memikirkan hidup kita kedepannya. Namun, didiriku tak sedikitpun yang tak kufikirkan. Mengapa? karena aku takut aku akan kecewa lagi dan lagi. Pernah sekali kubertanya pada ibuku, "Bu, bagaimana caranya menghindari kecewa?", "Jangan terlalu berharap, Nak." Ibuku menjawab. Namun aku terlalu cepat perxaya dengan harap yang diberinya sampai akhirnya ku kecewa, cermin itupun retak pecah, aku tak melarangmu untuk memperbaikinya. Cermin yang kamu pecahkan akan melukaimu jika kamu terlalu ingin menjadikannya seperti semula. Itulah pelajaran yang kudapat.
Aku, selalu rindu. Selalu rindu masa-masa dimana cermin ini belum kamu pecahkan. Jika ini memang benar alur dan kehendak yang Diatas, kuterima. Jika ini hanya akan menambah sakit ku, Tuhan tolong hentikan. Bukan cinta namanya jika amarah selalu lebih unggul. Yap, aku mengalaminya tapi kumembantah kalau aku bukan cinta. Aku sangat cinta, amat teramat sangat, sampai cintaku yang sangat itu menyakiti diriku. Kecewa ku tak bisa kutepis, selalu berputar di kepalaku. Inilah yang harus kuhadapi, kuberencana tuhan punya arena. Nikmati, itu sudah terjadi.
Comments
Post a Comment